Konflik Perbatasan Tiga Kabupaten Diminta Diselesaikan
Bintang Papua ( 23/01/2012) JAYAPURA - DPRD Kabupaten Nduga dan masyarakat setempat minta agar masalah sengketa perbatasan 3 Kabupaten di wiayah Pegunungan Papua Selatan yang masih dipolemikkan segera diselesaikan.
Tiga kabupaten itu masing masing-masing, Nduga, Asmat dan Yahukimo meliputi Kali Balim, Obio, Momnoak, Pasir Putih, Gearek dan Kali Kumuru yang selama ini diklaim kepunyaan masyarakat tanah adat.
Hal ini disampaikan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Nduga Obet Gwijangge kepada Bintang Papua via ponsel pada Kamis(19/1).
Dikatakan, pemerintah, tokoh tokoh adat dan masyarakat setempat telah membahas masalah tanah adat pada 31 Desember 2011 di Gearek dan Pasirputi intinya mendesak agar sengketa tanah di daerah perbatasan segera diselesaikan sekaligus dipublikasikan melalui media massa.
Dia menegaskan, pihaknya menghimbau agar para Kepala Daerah di 3 daerah perbatasan duduk bersama untuk menyelesaikan sangketa perbatasan agar tak memperpanjang konflik di masyarakat.
Dijelaskannya, masyarakat juga langsung menyampaikan kepada pihaknya sebagai anggota DPRD dan Wakil Ketua DPRD Nduga, bahwa Kepala Daerah tak mematuhi aturan-aturan yang telah dibuat terhadap hak tanah adat dan hak warisan tanah itu sendiri.
“Masyarakat tanah adat dari perbatasan sesuai dengan ciri-ciri khas budaya yang sama, dalam pengertian Tuhan menciptakan kami dan tempatkan kami bersama-sama dengan alam atau dusun kami tersendiri.Sebab itu hargailah orang dusun ini dan lindungi,”ujarnya.
Tokoh pemuda dan mahasiswa Nikius Nduga, Bugiangge mengatakan, pihaknya sangat kecewa terhadap pemerintah daerah Yahukimo yang menganggap sebagian tanah dari Kabupaten Nduga dan Asmat milik masyarakat Yahukimo.
“Pemerintah Yahukimo telah merampas hak tanah dan wilayat kami. Sehingga kami mengecam perbuatannya tersebut.Kami juga meminta pemerintah Nduga dan untuk cepat menyelsaikan konflik ini agar masyarakat tak resah,” katanya.
Sebab jika masalah ini terus berlanjut, katanya, masyarakat perbatasan tanah adat akan melakukan pemblokiran atau menghentikan semua dari segala aktivitas pemerintahan, baik Kabupaten Nduga, Asmat dan Yahukimo.
“Kami disana sudah merencanakan untuk melumpuhkan roda pemerintahan jika konflik ini tak selesai. Sebab kami menilai hal ini terjadi karena kepentingan dari Kabupaten Yahukimo,” tegasnya.
Berita Terkait:
Entries(RSS)
Inilah ciri khas pemimpin asli Papua. Masalah kecil dibikin besar dan masalah besar dibikin kecil. Masalah perbatasan kabupaten saja dibikin konflik apalagi masalah uang ? Seandainya Papua merdeka, dijamin akan terjadi pemberontakan-pemberontakan yang sama karena sekarang saja masyarakat dan pemimpin asli Papua sudah saling egois dan mementingkan dirinya masing-masing.